Postingan

Menampilkan postingan dengan label social issues

5 Tips Menenangkan Si Kecil yang Marah Karena Tak Dapat Gadget

Gambar
Pemanfaatan perangkat elektronik seperti smartphone atau tablet kini sudah tak bisa dilepaskan dari rutinitas harian bahkan bagi anak-anak usia dini. Fenomena tersebut banyak disebabkan oleh para orangtua yang menggunakan alat-alat tersebut sebagai sarana hiburan ataupun metode penenangan bagi buah hati mereka. Keadaan ini berpotensi membuat si kecil jadi sangat bergantung pada teknologi dan merasa kesulitan bila pemakaian gadgetnya tiba-tiba dibatasi. Salah satu efek umum dari ini adalah terjadinya tantrum atau pelepasan emosi melalui teriakan, menangis, dan perbuatan agresif. Lalu bagaimana langkah-langkah dalam penanganan tantrum pada si kecil? Simak petunjuk mudahnya di bawah ini untuk meredam kondisi tersebut. 1. Tentukan Batas dari Awal Mula Wali keluarga harus menetapkan pedoman tentang waktu dan lama pemakaian alat elektronik, contohnya adalah dengan melarang penggunaannya menjelang tidur. Di samping itu, mereka juga mesti mendefinisikan jenis konten apa saja yang b...

Hidup Adalah Pilihan: Jangan Sampai Menyesal!!

Gambar
Bayangkan situasinya seperti ini: Anda baru saja berolahraga dan merasa berkeringat, kemudian istirahat di sofa sambil mendengarkan podcast kesukaanmu. Tamu dalam acara tersebut memiliki nada bicara yang tegas namun mengandung rasa sesal. Ia bercerita bahwa pada masa mudanya, ia begitu asyik memburu hal-hal kurang bernilai tanpa menyadari telah melupakan prioritas utamanya untuk waktu cukup lama."Jika hanya kutahu dari awal...", ucapnya dengan nada prihatin. Kalimat tersebut memberikan dampak besar bagimu. Sebagai seseorang yang baru mencapai tahap remaja awal, kamu secara tiba-tiba merasa seolah-olah mendapatkan pesan dari waktu di kemudian hari. “Apakah suatu saat nanti saya juga akan menyesali jika tetap bertahan pada situasi ini?” batinmu. Namun dibalik kejadian tersebut, tersimpan sebuah ingatan yang jauh lebih mendalam yang sebenarnya telah menciptakan perspektif Anda. Ingatan itu adalah saat Anda meraih tangan bapak Anda yang tengah berperang melawan penyakit ...

Slow Living Bukan Selalu Semanis yang Terlihat

Gambar
Gaya hidup slow living, yang mengutamakan kedamaian, kemudahan, dan kewaspadaan sadar, sudah menjadi dambaan buat banyak individu yang berharap untuk melepaskan diri dari keriuhan urban. Konsep ini tampaknya memberikan janji kegembiraan lewat cara menjalani hari-hari yang lebih damai serta lebih dekat dengan alam. Tetapi, adakah kenyataannya senyaman apa yang diiming-imingkan? Bagi orang yang dulu berniat untuk keluar dari Jakarta guna menerapkan gaya hidup lambat di kawasan pedesaan, saya ingin menyampaikan pemikiran serta introspeksi diri mengenai cara pandang tersebut tak semudah yang terbayangkan dalam realitanya. Ekspektasi Pertama: Mencari Ketentraman di Wilayah tersebut Saat masih remaja, pikiran saya kerap melambung kepada suatu hidup yang sunyi di pinggir kota. Saya terbayang hawa sejuk, atmosfer tenang, serta komunitas ramah layaknya masa kecilku—baik itu waktu bernaungan di Pekanbaru maupun pada perjalanan wisata mengunjungi beberapa kotamadya sempit dan desa-des...